home Lifestyle Mengenal Berbagai Resiko Menggunakan Transaksi Elektronik

Mengenal Berbagai Resiko Menggunakan Transaksi Elektronik

Transaksi elektronik atau yang lebih familiar kita sebut dengan e-money ini akhir-akhir ini makin sering digunakan, terlebih setelah pemerintah memberlakukan pembayaran non-tunai pada ruas jalan tol baik dalam kota maupun luar kota. Kini hampir semua lini kehidupan tak bisa lepas dari penggunaan e-money.

E-money seharusnya menjadi pengganti alat tukar uang secara fisik, namun pada praktiknya penggunaan e-money tidaklah demikian. Ada beban administrasi yang mesti konsumen bayar untuk bisa menikmati fasilitasi e-money ini. Tentu kebijakan ini lantas menjadi pro dan kontra. Sebagian masyarakat kelas menengah keberatan dengan adanya biaya administrasi yang bank bebankan kepada pengguna e-money.

Pada akhirnya, mereka yang merasa tidak mendapat manfaat penuh dari keberadaan uang elektronik memilih untuk mengurangi pemakaian e-money. Namun tidak begitu dengan kalangan mampu atau menengah keatas. Dengan beban biaya yang diberikan bank, mereka tidak pernah keberatan asalkan pelayanan yang bank berikan juga sepadan.

Karena itulah hampir semua aktifitas jual beli dan pembayaran apapun yang dilakukan kalangan menengah ke atas kini sudah menggunakan transaksi ini. Mulai dari membayar cicilan kendaraan bermotor, membeli token listrik sampai berbelanja kebutuhan bulanan. Semakin sedikit saja masyarakat dikalangan ini yang menggunakan uang cash.

Kemudahan dan keamanan adalah alasan utama mengapa mereka memilih layanan tersebut dibanding uang cash untuk proses transaksi. Mudah karena kita tak perlu membawa uang dalam bentuk fisik segudang untuk berbelanja dalam jumlah besar misalnya sampai ratusan juta rupiah. Aman karena sekalipun e-money hilang kita hanya perlu menghubungi pihak bank untuk melakukan pemblokiran.

Sehingga sekalipun e-moneymu hilang, jumlah saldo didalamnya tetap aman. Beda halnya ketika kita membawa dompet berisi banyak uang cash di layanan payment gateway, ketika dompet hilang maka uang diseluruh dompet pun ikut menghilang. Melihat sejumlah keuntungan penggunaan uang elektronik pastinya membuat kita tergoda untuk juga menggunakannya bukan?

Namun, sebaiknya sebelum memutuskan mengganti semua transaksimu dengan e-money kenali beberapa resiko yang mungkin menimpa kita saat menggunakan e-money ini. Sebab penggunaan un-cash ini bukan tanpa resiko, mulai dari penipuan hingga pengurasan saldo bisa kita alami. Penasaran apa saja resiko atau kelemahan e-money? Berikut penjelasannya:

  1. Penggunaan e-money cenderung membuat penggunanya boros

Mungkin ini resiko paling besar yang akan dialami oleh mereka pengguna e-money. Jika dulu terbiasa mengambil dalam jumlah terbatas uang cash di ATM, kini taks ada lagi yang membendung aktifitas berbelanja karena semua bisa dilakukan dengan menekan tombol di ponsel. Walhasil hasrat kita berbelanja seringkali tidak terkontrol.

Selama saldo e-money masih ada pasti keinginan untuk membeli barang primer maupun sekunder selalu ada. Kendati sebenarnya bisa ditunda dibulan selanjutnya. Maka kamu, yang sudah hobi belanja ke mall pasti akan kehabisan uang karena menggunakan e-money. Aktifitas belanja tidak akan terkontrol dan pengeluaran akan membengkak.

  1. Penggunaan uang elektronik harus selalu terhubung dengan internet

Perlu diingat e-money berbeda dengan kartu debit dan kredit yang tetap memerlukan sebuah kartu sebagai alat ganti uang cash. Hanya ponsel, sebuah pin, pasword dan koneksi internetlah yang diperlukan untuk bisa menggunakan e-money. Jadi tanpa adanya koneksi internet kita tidak bisa melakukan transaksi apapun.

Tentunya ini sangat menyulitkan ketika kita membutuhkan proses transaksi saat itu juga. Karena itulah sebaiknya pengguna e-money juga tidak benar-benar mengosongkan dompetnya dari uang cash. Karena kita tidak pernah tahu apakah koneksi insternet pada ponsel cukup stabil atau tidak.

  1. Baterai ponsel harus dipastikan penuh

Kalau berada ditempat-tempat dengan pasokan listrik penuh, pastinya penggunaan e-money akan lancar-lancar saja. Beda hal ketika ponselmu mengalami habis baterai sudah pasti transaksi tidak bisa dilakukan. Memang kita bisa menyiasatinya dengan membawa power bank kapanpun untuk berjaga-jaga. Namun ini juga tidak sepenuhnya bisa menyelamatkan.

Intinya, kita tetap harus memiliki uang cash untuk berjaga-jaga, tidak sepenuhnya mengandalkan e-money yang sangat bergantung pada ponselmu.

  1. Tidak semua toko dapat menerima pembayaran dengan uang elektronik

Ini biasanya khusus untuk kasus transaksi pembelian di merchant online. Sebab ada beberapa online shop yang masih menggunakan pembayaran secara debit dan kartu kredit. Di Indonesia memang belum banyak pengusaha baik makanan maupun pakaian dan kebutuhan barang lain yang memiliki sistem pembayaran dengan e-money.

Sebabnya karena mereka menganggap penggunaan debit dan kartu kredit jauh lebih aman. Selain itu selalu ada biaya tambahan untuk menghadirkan fasilitas e-money dalam merchant online mereka. Sehingga mereka memilih untuk menggunakan cara lama yakni pembayaran melalui debit dan kredit.

Bahkan untuk sistem transaksi yang merchantenya offline, tidak banyak toko yang menggunakan fasilitas e-money, hampir seluruhnya masih menggunakan debit. Jelas, bukan kalau penggunaan e-money bisa dibilang bukan transaksi pembayaran yang paling efektif untuk di Indonesia.

Dibanding mengandalkan seluruh kegiatan transaksi dengan e-money, sebaiknya kita tetap mempertahankan keberadaan kartu debit dan kredit untuk berjaga-jaga.

  1. Penggunaan e-money yang berbasis teknologi belum terjamin keamanannya, ada kemungkinan bisa diretas

Bagi kalangan awam yang tidak begitu melek teknologi dan bahkan baru mengenal penggunaan ponsel pintar, pastinya penggunaan e-money akan menyulitkan. Memang bagi generasi millenial atau gen z cukup mudah menggunakan fasilitas ini karena mereka juga sudah terbiasa bersinggungan dengan teknologi sejak kecil.

Hal ini berakibat pada kurang pahamnya beberapa pengguna soal keselamatan dan keamanan e-moneynya. Bagaimana mereka seharusnya menjaga kerahasiaan mengenai apapun informasi soal uang elektroniknya. Nahasny ada beberapa pihak yang memanfaatkan orang-orang ini dengan melakukan peretasan.

Ya, peretasan dari jarak jauh sangat mungkin dilakukan. Bisa jadi uangmu dalam e-money terkuras sedikit demi sedikit. Karena itulah banyak yang menilai sistem e-money ini keamanannya masih dipertanyakan. Belum lagi, pihak Bank Indonesia juga mengakui masih belum menemukan cara untuk mencegah adanya tindakan peretasan.

BI hanya menyarankan untuk tidak mengandalkan semua transaksi dengan e-money karena sistemnya yang sangat mudah diretas, berbeda dengan kartu debit dan kredit.

Jika kamu belum siap dengan resiko-resiko yang disebutkan tadi, sebaiknya memang jangan dulu menggunakan e-money. Atau untuk coba-coba saja isi saldonya dengan sangat terbatas. Sehingga ketika mengalami peretasanpun tidak banyak kerugian yang diderita.

Namun, tentu saja prediksi kedepannya e-money akan menguasai semua sistem jual beli. Karena itu kita tidak bisa sepenuhnya menutup mata dan mengindahkan fasilitas pembayaran yang satu ini. karena lambat laun semua orang akan menggunakannya, dan jika tidak mempelajarinya kita akan jadi bagian dari orang-orang tertinggal.

Tentu saja, semua kembali kepilihan masing-masing. Apakah sudah siap dengan segala kemudahan, fasilitas dan bahkan resiko penggunaan uang elektronik. Jika sudah mengapa tidak segera membiasakan diri menggunakan e-money untuk setiap transaksi?

shares